Widget HTML Atas

Sejarah Qasidah Burdah Yang Sering Dibacakan Oleh Para Habaib Di Indonesia

 


Qasidah Burdah, juga dikenal sebagai "Qasidah al-Burda" atau "Qasidah al-Kawakib al-Durriyyah fi Madh Khayr al-Bariyyah" adalah salah satu karya sastra Islam yang paling terkenal dan paling sering dibaca di seluruh dunia Muslim. Qasidah ini ditulis oleh seorang penyair Arab terkenal bernama Imam al-Busiri, yang lahir di Mesir pada abad ke-13.


Qasidah Burdah terdiri dari 160 bait, dan setiap baitnya berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam puisi ini, Imam al-Busiri mengekspresikan kekagumannya kepada Nabi Muhammad SAW dan memuji sifat-sifat mulia serta keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Dia menggambarkan keindahan dan kelembutan karakter Nabi Muhammad SAW, serta dedikasinya terhadap agama Islam dan umat manusia.


Qasidah burdah sering dibacakan oleh para habaib di Indonesia, salah satunya Habib Hasan Bin Ja'far Assegaf Pimpinan Majelis Ta'lim Nurul Musthofa yang membacakan Wasidah burdah setiap selasa malam di Istana Segaf Ciganjur, Jakarta Selatan.



Salah satu bagian yang paling terkenal dari Qasidah Burdah adalah bait yang berbunyi "Maulidun bihi kamali" yang artinya "melalui dirinya (Nabi Muhammad), kesempurnaan ditemukan". Bait ini merangkum tema utama dari Qasidah Burdah, yakni keagungan dan keberkahan yang ditemukan melalui Nabi Muhammad SAW.


Qasidah Burdah juga memiliki banyak manfaat dan keistimewaan bagi pembacanya. Banyak orang menganggapnya sebagai salah satu dari doa-doa yang paling mustajab atau berpahala besar, karena ia mengandung banyak pujian dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Qasidah ini juga dianggap sebagai obat penyembuh bagi orang yang mengalami kesulitan atau kesedihan, karena ia mengandung banyak doa dan harapan untuk keberkahan dan kesejahteraan.


Bahkan sejarah mencatat bahwa ada beberapa kejadian di mana orang-orang yang sakit atau menghadapi kesulitan mengalami kesembuhan atau pemecahan masalah mereka setelah membaca Qasidah Burdah dengan tulus dan penuh keyakinan.


Selain itu, Qasidah Burdah juga dianggap sebagai warisan sastra dan budaya Islam yang penting. Karya sastra ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, dan banyak pujian dan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang terkandung di dalamnya menjadi bagian penting dari budaya Islam.


Ketika diucapkan atau dibaca dengan benar, Qasidah Burdah juga dapat menjadi sarana untuk merenungkan keagungan Allah SWT dan keberkahan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Ia juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara individu dan agamanya, serta membantu orang untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup.


Namun, di samping manfaat dan keutamaannya, ada beberapa kritik terhadap Qasidah Burdah. Beberapa kritikus menganggap bahwa puisi ini berlebihan dalam pemujaan terhadap Nabi.

Tidak ada komentar untuk "Sejarah Qasidah Burdah Yang Sering Dibacakan Oleh Para Habaib Di Indonesia"